Waspada Katapleksi Ketika Otot Tubuh Tiba Tiba Lemas
Feb 08
0 Comments

Sejumlah masalah gangguan tidur bukan lagi hal tabu di kalangan masyarakat umum, khususnya bagi kalangan pekerja di kota besar. Sudah banyak yang melaporkan gejala-gejala gangguan tidur seperti insomnia, sleep paralysis, parasomnia, hipersomnia, OSA atau obstructive sleep apnea penyebab mengigau, sleepwalking, hingga REM sleep behavior disorder. Dari sekian macam-macam gangguan tidur tersebut, cataplexy atau dalam bahasa Indonesia katapleksi adalah salah satu gangguan tidur yang tak banyak orang tahu sehingga banyak yang salah mendiagnosis sendiri (self diagnosis) atau menyalahartikan.

Singkatnya, katapleksi adalah kondisi di mana otot kehilangan kontrol secara tiba-tiba saat Anda dalam keadaan sadar dan umumnya dikaitkan dengan gangguan tidur narkolepsi. Narkolepsi adalah kelainan yang menyebabkan Anda merasa sangat sering menguap, mengantuk atau mudah tertidur secara tiba-tiba tanpa peringatan pada siang hari. Apabila Anda biarkan, kondisi ini dapat memicu munculnya berbagai penyakit akibat gangguan tidur yang lebih kompleks.

Sebab, pada dasarnya tidak ada obat pasti untuk menangani katapleksi, tetapi Anda dapat mengurangi gejalanya dengan  mengkonsumsi obat-obatan tertentu. Kendati demikian, Anda tak perlu terlalu khawatir karena artikel ini akan mambahas lebih jauh tentang katapleksi, gejalanya, metode perawatan, risiko, dan tips untuk hidup dengannya. Dengan begitu Anda bisa lebih memahami kondisi diri (self awareness) dengan lebih menyeluruh.

Apa Itu Katapleksi?

katapleksi adalah

Melansir dari penelitian Neurological Disorders and Stroke (NINDS), katapleksi adalah salah satu gangguan otak yang menyebabkan otot tubuh kehilangan kontrol pada sementara waktu. Dalam beberapa kasus, katapleksi dipicu oleh emosi yang kuat atau ekstrem, seperti kemarahan, stres, kecemasan, ketakutan, perubahan suasana hati akibat depresi, atau bahkan karena perasaan sukacita dan bahagia.

Sebagian besar orang yang mengalami katapleksi adalah orang yang memiliki gangguan tidur narkolepsi tipe 1, tidur kronis, dan gangguan neurologis di mana otak memiliki masalah mengendalikan pola tidur dan bangun dengan benar. Hal ini membuat banyak orang yang menganggap katapleksi adalah kelumpuhan otot yang sama dengan yang Anda alami selama fase tidur REM (Rapid Eye Movement). Namun, pada kasus yang sangat jarang, cataplexy dapat terjadi tanpa  gejala narkolepsi dan penyakit lainnya.

Baca Juga:

 

Gejala Katapleksi

Gejala cataplexy

Gejala gangguan tidur ini biasanya berdampak pada salah satu atau kedua sisi tubuh selama 30 detik hingga 2 menit. Meskipun sering dikaitkan dengan penyakit lain atau gangguan tidur, seperti narkolepsi, stroke, kantuk yang berlebihan, multiple sclerosis, dan sakit kepala, katapleksi bisa terjadi sendiri tanpa ada hubungannya dengan gangguan kesehatan apa pun.

Adapun gejala umum dari katapleksi adalah:

  • Sakit kepala sehingga kepala lunglai
  • Kedutan pada wajah
  • Posisi rahang turun
  • Kelopak mata terkulai hingga kedutan pada mata
  • Penglihatan kabur dan ganda
  • Sulit berbicara
  • Berbicara cadel atau gerakan lidah yang tidak disengaja
  • Tungkai terasa lemas

 

Gejala cataplexy dapat berbeda pada setiap orang dan kebanyakan orang mulai menyadari gejalanya saat remaja atau dewasa muda, sekitar usia 7 sampai 25 tahun. Utamanya akan mudah terdeteksi saat Anda mengalami tekanan akibat studi perguruan tinggi, tekanan mental karena lingkungan kerja, atau lingkungan baru yang berpotensi menyebabkan stres lainnya.

Beberapa orang mungkin akan mengalami katapleksi hanya beberapa kali dalam hidup mereka, sementara penderita gangguan tidur akut dapat mengalaminya beberapa kali  dalam sehari. Jika Anda mengalami gejala-gejala di atas, temukan tempat yang aman untuk duduk atau berbaring sehingga dapat membantu Anda terhindar dari cedera selama serangan katapleksi.

Penyebab Katapleksi

Penyebab Katapleksi

Hingga saat ini, penyebab cataplexy masih diselidiki secara mendalam oleh para peneliti. Namun, kebanyakan kasus menunjukkan bahwa penyebab katapleksi adalah karena hilangnya sel-sel otak tertentu yang menghasilkan hormon orexin atau juga disebut hypocretin.

Singkatnya, hormon orexin memainkan peran penting dalam siklus tidur-bangun manusia. Fenomena kelainan tubuh inilah yang sering peneliti anggap sebagai penyebab gangguan tidur narkolepsi tipe 1.

Tetapi, penelitian lain juga menunjukkan bahwa  ada beberapa faktor lain yang memicu hilangnya hormon orexin dalam otak sehingga orang bisa mengalami katapleksi sebagai bagian dari gejala narkolepsi tipe 1. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Gangguan Autoimun

Hilangnya sel yang menghasilkan hormon orexin mungkin berkaitan dengan gangguan pada sistem kekebalan tubuh yang juga dikenal dengan autoimun. Dalam gangguan autoimun, tubuh akan menyerang jaringan sehatnya sendiri yang diakibatkan oleh penyakit tertentu.

Baca Juga:

 

2. Riwayat Keluarga dan Cedera Otak

Walaupun sebenarnya potensi hubungan genetik dengan katapleksi tidak sepenuhnya akurat dan peneliti pahami, sekitar 10% penderita narkolepsi tipe 1 memiliki kerabat dekat yang memiliki gejala mirip katapleksi. Selain itu, beberapa orang dengan narkolepsi tipe 1 yang kehilangan sel-sel otak penghasil hormon orexin pernah mengalami cedera otak, tumor, dan penyakit saraf pusat lainnya.

3. Penyakit Niemann-Pick Type C (NPC)

NPC adalah kelainan genetik langka yang ditandai dengan ketidakmampuan tubuh untuk mengangkut senyawa lemak tubuh seperti kolesterol ke dalam sel. Orang yang terdiagnosis penyakit NPC dapat mengalami berbagai gejala neurologis, seperti gangguan kognitif, demensia, dan juga cataplexy.

4. Prader-Willi Syndrome

Prader-Willi syndrome adalah kondisi genetik yang umumnya terjadi sejak masa kanak-kanak yang mana memicu terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Penderita sindrom ini akan kehilangan nafsu makan tapi di sisi lain juga merasa bahagia, baik anak-anak hingga orang dewasa.

5. Angelman Syndrome

Gangguan genetik ini mempengaruhi sistem saraf yang mengarah pada kecacatan intelektual, gangguan bicara, dan masalah dengan gerakan dan keseimbangan. Banyak kasus menunjukkan bahwa sindrom ini terjadi pada anak-anak dan remaja yang masih dalam tahap tumbuh-kembang.

Cara Mengatasi Katapleksi

Cara Mengatasi cataplexy

Seperti yang telah disebutkan di awal, tidak ada obat pasti untuk mengobati cataplexy atau narkolepsi. Gejala narkolepsi seperti cataplexy biasanya akan berlangsung selama beberapa bulan dan bahkan seumur hidup.

Kendati demikian, beberapa teknik pengobatan medis dan alternatif dapat mengurangi intensitas terjadi katapleksi dalam jangka waktu tertentu. Beberapa pilihan pengobatan untuk mengatasi katapleksi adalah sebagai berikut.

1. Penggunaan Obat Antidepresan

Menurut jurnal kesehatan Harvard Medical School, terdapat obat-obatan yang cukup efektif dalam mengobati cataplexy. Obat-obatan seperti antidepresan dapat mengurangi serangan katapleksi sebesar 90 persen dan bahkan dapat menghilangkan gejala sepenuhnya pada beberapa orang. Rekomendasi obat antidepresan yang bisa Anda coba adalah:

  • Clomipramine atau selective serotonin uptake reinhibitors (SSRIs), seperti Prozac
  • Xyrem yang berfungsi untuk mengobati keluhan kantuk berlebihan di siang hari
  • Provigil untuk penderita katapleksi tanpa gangguan narkolepsi

 

Perlu Anda ingat bahwa obat-obatan antidepresan di atas memiliki efek samping yang mempengaruhi kesehatan tubuh dan mental. Mulai dari tekanan darah tinggi, detak jantung berdegub kencang, perubahan suasana hati secara tiba-tiba, mual, muntah, pusing, tremor, sering buang air kecil, dan kantuk.

2. Menerapkan Pola Hidup Sehat

Jika Anda menghindari penggunaan pengobatan medis, maka Anda perlu dan harus mengubah pola hidup untuk lebih sehat. Mulai dari rutin berolahraga sebelum tidur atau setelah bangun, mengatur pola makan seperti diet defisit kalori atau bahkan rutin berpuasa untuk menjaga kestabilan berat badan, dan mengurangi konsumsi kafein.

Tapi, lebih dari itu, ada cara yang paling banyak dokter sarankan untuk penderita katapleksi akibat narkolepsi, yaitu dengan menerapkan sleep hygiene. Pada dasarnya, sleep hygiene melibatkan peningkatan kualitas tidur dan mengurangi kebiasaan atau menyingkirkan benda yang mengganggu tidur. Berikut adalah beberapa tips untuk meningkatkan sleep hygiene Anda.

 

Yang paling penting, ciptakan suasana kamar yang membuat tubuh Anda nyaman agar bisa tidur rileks dan pernapasan lancar. Misalnya buat suhu kamar menjadi lebih sejuk hingga penggunaan sprei dan bedcover yang antibakteri sehingga tidak memperparah gejala katapleksi Anda.

Dapatkan dengan mudah dengan membeli produk Sleep Buddy yang sudah terjamin kualitasnya dan berbahan premium. Informasi selengkapnya bisa Anda temukan dengan mengunjungi website resmi Sleep Buddy atau melalui Facebook dan Instagram, ya!

Baca Juga:

Dania Lazuardi

Sleep Buddy adalah sebuah brand yang ingin menghadirkan kebahagiaan & kehangatan di setiap rumah dengan cara yang berarti .