Penyebab Dan Cara Menghentikan Bahayanya Self Destructive
Feb 02
0 Comments

Sejatinya menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Pasalnya, jika sekali saja kesehatan mental Anda terganggu, maka akan mempengaruhi semua aspek kehidupan Anda. Mulai dari mengalami gangguan tidur, perubahan mood dan tingkah laku secara mendadak, sulit fokus dan berkonsentrasi dengan satu hal, hingga memiliki kecenderungan melukai diri sendiri atau self destructive.

Seperti artinya, perilaku self destructive mengacu pada segala jenis tindakan yang membahayakan diri sendiri, baik secara fisik atau mental. Tindakan negatif ini mungkin bisa Anda lakukan secara tidak disengaja atau juga mungkin Anda tahu persis apa yang Anda lakukan, tetapi dorongannya terlalu kuat untuk dikendalikan.

Banyak ahli kesehatan dan jurnal psikologi mengaitkan kondisi ini dengan kondisi kesehatan mental, seperti stres berlebih, depresi, atau kecemasan. Nah, untuk mengetahui seluk beluk self destructive, baca terus artikel ini agar Anda bisa mengenali beberapa perilaku yang mengacu pada menyakiti diri sendiri sehingga tahu apa yang harus Anda lakukan ketika menghadapi momen tersebut.

Apa Itu Perilaku Self Destructive?

Perilaku self destructive adalah ketika Anda melakukan sesuatu yang pasti menyebabkan self harm atau menyakiti diri sendiri. Baik itu menyakiti secara emosional atau fisik.

Beberapa perilaku self destructive atau menyakiti diri sendiri lebih jelas, seperti:

  • Memiliki pikiran atau niatan dan mencoba bunuh diri
  • Binge eating atau perubahan pola makan yang ekstrem, apakah itu meningkatnya nafsu makan atau malah sangat berkurang
  • Melakukan kegiatan kompulsif seperti judi, kecanduan gadget dan game, atau belanja
  • Memiliki perilaku dan hasrat seksual yang impulsif dan berisiko membahayakan diri sendiri dan orang lain
  • Mulai mengkonsumsi alkohol dan narkoba
  • Mencederai diri menggunakan benda tajam atau benda tumpul sekalipun, seperti memukul, menyayat tubuh, menjambak rambut, atau bahkan membakar diri

 

Perilaku self destructive adalah ekspresi dari self shadow atau cerminan sisi gelap pada tiap insan manusia yang muncul karena rendahnya self esteem, self worth, dan bahkan karena rasa benci dengan diri sendiri (self hatred).

Baca Juga:

 

Faktor Penyebab Perilaku Self Destructive

penyebab suka menyakiti diri sendiri

Perlu Anda ketahui bahwa perilaku yang merugikan ini bisa dialami oleh seseorang yang bahkan tidak memiliki diagnosis gangguan kesehatan mental tertentu. Salah satu penelitian menemukan bahwa self destructive umumnya dialami oleh berbagai kalangan usia, meskipun remaja dan dewasa muda adalah kalangan yang rentan dalam mencederai diri secara fisik.

Bagi Anda yang memiliki kecenderungan berperilaku menyakiti diri sendiri, mungkin Anda pernah mengalami beberapa pengalaman tidak menyenangkan, seperti:

  • Penggunaan alkohol atau narkoba
  • Memiliki trauma masa kecil, seperti pengabaian atau penelantaran
  • Pernah mendapatkan pelecehan secara emosional atau fisik
  • Memiliki teman yang juga punya kecenderungan untuk melukai diri sendiri
  • Self esteem atau harga diri yang rendah
  • Pernah mendapatkan tindakan isolasi sosial dan pengucilan dari lingkungan sekitar

 

Namun, pada umumnya perilaku self destructive dapat berasal dari kondisi kesehatan mental, seperti:

1. Anxiety Disorder atau Gangguan Kecemasan

Kondisi ini ditandai dengan munculnya rasa takut berlebihan, khawatir dengan hal yang tidak jelas, dan tertekan dengan hal yang bahkan belum terjadi. Ketiga perilaku tersebut ditengarahi oleh pikiran-pikiran negatif yang mempengaruhi pola pikir sehingga memicu ketidakseimbangan kesehatan mental.

2. Depresi

Depresi merupakan bentuk emosi negatif berupa kesedihan yang luar biasa yang dapat menimbulkan hilangnya minat terhadap segala hal. Misalnya hilangnya nafsu makan, tidak tertarik untuk bekerja atau sekolah, malas untuk menghabiskan waktu untuk bersosialisasi, dan juga termasuk minat untuk hidup.

Depresi tidak serta merta dipengarui oleh masalah internal seseorang, tapi depresi bisa muncul karena pengaruh alias menular dari orang yang depresi terlebih dahulu.

3. Gangguan Makan

Gangguan makan yang ditandai dengan kondisi fisik, seperti anoreksia, bulimia, dan binge eating.

4. Gangguan Kepribadian

Gangguan kepribadian merupakan masalah mental seseorang yang mana tidak mampu untuk berhubungan dengan orang lain dengan cara yang sehat.

Baca Juga:

 

5. PTSD

Post-Traumatic Stress Disorder atau PTSD adalah bentuk lain dari gangguan kecemasan yang dipicu lantaran seseorang pernah mengalami peristiwa traumatis. Salah satu sumber menunjukkan bahwa ciri-ciri kepribadian yang memiliki PTSD dan cenderung impulsif dapat meningkatkan risiko mengalami self destructive parah.

Cara Menghentikan Perilaku Self Destructive

Cara Menghentikan Perilaku Self Destructive

Menurut salah satu penelitian, seseorang yang memiliki habit atau kebiasaan tertentu, tak terkecuali self destrucive membutuhkan waktu kurang lebih 66 hari untuk beralih ke kebiasaan baru yang lebih positif.

Butuh waktu tak sebentar dan harus penuh konsistensi agar kebiasaan menyakiti diri sendiri itu bisa berangsur hilang dan Anda bisa hidup normal. Untuk lebih jelasnya, berikut ini beberapa cara yang bisa Anda coba.

1. Buat Jurnal Refleksi Diri Setiap Hari

Belum banyak yang tahu jika menulis jurnal atau buku diari setiap hari memiliki banyak manfaat untuk kesehatan mental dan merupakan cara ampuh untuk meningkatkan kesadaran diri (self awareness) Anda. Bahkan, Anda juga dapat mengatakan bahwa self awareness adalah unsur terpenting dalam mengatasi kecenderungan self destructive.

Selain membuat jurnal secara tertulis, Anda juga bisa mencoba untuk curhat dengan orang terdekat dan terpercaya. Dengan begitu, Anda bisa mengkomunikasikan isi hati dan pikiran lebih interaktif.

2. Berlatih Meditasi atau Mindfulness

Anda juga bisa mencoba untuk bermeditasi secara tradisional, seperti meditasi mindfulness yang bertujuan untuk memicu minat Anda dalam hal positif. Contohnya seperti meditasi berjalan, terapi seni yang penuh perhatian, yoga, terapi visualisasi warna, dan lain-lain.

Berlatihlah secara berkala dan teratur supaya tubuh Anda pelan-pelan terbiasa dengan perubahan aktivitas. Anda bisa melakukan terapi secara mandiri di rumah atau ikut perkumpulan khusus terapi self harm.

3. Lepaskan Segala Bentuk Emosi Dalam Diri Anda

Terkadang, alasan mengapa Anda bisa memiliki kecenderungan sel destructive adalah karena emosi terdalam, seperti kemarahan, kesedihan, dan gairah, tidak Anda ungkapkan dengan bebas. Nah, ketika Anda tidak menyalurkan emosi yang terkubur itu dengan cara yang sehat, emosi itu keluar dalam perilaku yang akan membuat Anda rela menyakiti diri sendiri.

Jadi, temukan aktivitas yang Anda sukai yang membutuhkan upaya mental atau fisik yang intens sehingga Anda bisa mengeluarkan segala emosi negatif Anda. Contohnya olahraga sebelum tidur seperti tinju, lari, menyanyi, menari, menciptakan seni, atau cukup dengan berteriak dan menangis biasa.

4. Fokus Pada Self Love dan Self Care

Self love adalah sikap dasar positif yang baik untuk diri sendiri karena merupakan praktik merawat kebutuhan emosional Anda. Sedangkan self care pada umumnya lebih berorientasi pada tubuh Anda.

Self care melibatkan aktivitas mencintai diri sendiri seperti makan dengan benar dan teratur, minum air putih yang cukup, mengenakan pakaian yang nyaman, tidak bekerja lembur, memahami pentingnya work-life balance, menerapkan pola hidup sehat dan sleep hygiene, serta memenuhi kebutuhan tidur. Anda bisa memenuhi kebutuhan tidur dengan menggunakan perlengkapan tidur, seperti set sprei dan bedcover yang berkualitas dan nyaman. Dengan begitu kualitas tidur Anda meningkat dan kewarasan Anda tetap terjaga sehingga terhindar dari self destructive.

Bisa dibilang, kegiatan-kegiatan di atas membantu Anda untuk mendapatkan self reward dengan cara terbaik. Keduanya sangat membantu Anda agar dapat menghentikan upaya menyakiti diri sendiri.

Karena kecenderungan self destructive dapat terjadi secara sadar dan tidak sadar yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kesehatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan jangka panjang Anda. Tapi harap diingat bahwa perilaku berbahaya ini adalah gejala dari luka dalam pada perasaan Anda yang perlu ditunjukkan belas kasih dan perlu diungkapkan dengan cara yang sehat. Semangat, ya!

Baca Juga:

Dania Lazuardi

Sleep Buddy adalah sebuah brand yang ingin menghadirkan kebahagiaan & kehangatan di setiap rumah dengan cara yang berarti .