Jika anak melakukan kesalahan atau kenakalan, biasanya orangtua akan memberikan hukuman. Ini memang merupakan suatu hal yang wajar. Namun, apakah Anda telah menerapkan cara menghukum anak dengan benar berdasarkan usia mereka?
Sebuah penelitian menyebutkan bahwa hampir 70% orangtua di seluruh dunia menggunakan hukuman fisik untuk mendisiplinkan anak. Padahal, menurut psikolog, hal tersebut sangat tidak dianjurkan. Sebab, hukuman fisik dapat memberikan dampak negatif dalam proses tumbuh kembang anak.
Maka dari itu, Anda harus mengetahui bagaimana cara memberikan hukuman yang benar untuk anak sesuai dengan usia mereka. Sebab, berbeda usia maka akan berbeda pula cara mendisiplinkan anak. Hal ini lantaran efektivitas dan dampaknya pun akan sangat berbeda.
Lalu, bagaimana cara menghukum anak dengan benar?
Menghukum Anak Berdasarkan Usia
Saat buah hati Anda sedang bersikap nakal atau melakukan kesalahan, apakah Anda akan langsung menghukumnya? Jika iya, cobalah untuk menghentikan kebiasaan tersebut.
Alih-alih langsung memberikan hukuman, cobalah untuk mengidentifikasi pokok masalahnya terlebih dahulu. Kemudian, jelaskan dengan perlahan bagaimana dampak buruk yang bisa timbul akibat perbuatannya.
Setelah anak memahami dengan benar duduk permasalahan dan akibat yang bisa ia timbulkan, maka cobalah untuk mengembalikan mood buah hati Anda. Lalu beri nasihat dan contoh perbuatan yang lebih baik.
Jika Anda ingin anak menjadi lebih disiplin, maka Anda bisa menggambarkan hukuman apa yang bisa ia terima apabila tetap bersikap nakal. Dengan demikian, ia pun akan mengubah perilakunya menjadi lebih baik.
Setelah Anda memahaminya, berikut ini adalah panduan tentang bagaimana cara menghukum anak dengan benar sesuai dengan usia.
Terapkan Metode Timeout untuk Anak Usia 0-3 Tahun
Di usia 3 tahun kebawah, biasanya kenakalan anak akan berupa melempar benda, suka berteriak, menangis dengan kencang, menggigit, hingga membuang sesuatu dengan sembarangan. Untuk mendisiplinkan perilaku ini, maka Anda bisa menerapkan metode timeout.
Caranya adalah dengan membawa si kecil ke ruangan yang terbebas dari benda-benda yang sekiranya bisa menarik perhatiannya. Misalnya televisi atau gadget. Kemudian, minta anak untuk duduk dan berikan evaluasi tentang perbuatannya.
Setelah itu, Anda bisa meninggalkan ruangan tersebut selama 1 sampai 2 menit guna memberikan waktu bagi anak untuk refleksi. Setelah anak merenungi kesalahan apa yang telah ia lakukan, maka Anda bisa kembali masuk ke dalam ruangan dan memeluknya.
Kemudian, buat si kecil berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan nakalnya. Ingat, jangan memukul anak sebagai bentuk hukuman dalam rentang usia ini.
Baca Juga :
Berikan Hukuman Sekaligus Pujian untuk Anak Usia 3-7 Tahun
Dalam rentang usia ini, biasanya anak akan mulai memahami bagaimana dampak dan konsekuensi dari perilakunya.
Sebenarnya, metode timeout masih bisa Anda terapkan pada anak usia 3-7 tahun. Namun, Anda juga perlu memberikan pujian apabila si kecil memperbaiki kesalahannya dan mengubah perilakunya menjadi lebih baik.
Sebab, biasanya pujian lebih efektif untuk memotivasi anak bersikap baik daripada memberikan ancaman hukuman. Ini juga menjadi salah satu metode parenting generasi alpha yang nantinya bisa mendukung tumbuh kembang mental anak secara maksimal.
Menghukum dan Ajak Diskusi untuk Anak Usia 7-12 Tahun
Pada usia sekolah dasar hingga menginjak pra-remaja, biasanya anak memang sedang dalam fase ingin mengeksplorasi banyak hal. Ini karena mereka merasa sangat penasaran dengan hal-hal baru, terutama di sekolah.
Sehingga, wajar apabila mereka bersikap “nakal-nakalnya”. Kendati demikian, Anda tidak boleh memberikan hukuman dengan ucapan berisi ancaman apabila anak melakukan kesalahan. Sebab, ancaman justru dapat membuat kepercayaan diri anak menjadi turun. Bahkan menyebabkan mereka menjadi tidak termotivasi mengubah perilaku.
Metode yang tepat untuk menghukumnya adalah dengan mengajak berdiskusi. Jelaskan tentang hal-hal yang tidak mereka pahami, atau apa saja yang membuat mereka penasaran. Ingat, hindarilah menggunakan kekerasan fisik sebagai hukuman.
Metode ini juga sekaligus bermanfaat untuk melatih mental anak agar berani mengemukakan pendapatnya.
Berikan Aturan dan Batasan untuk Anak Usia 13 Tahun Keatas
Di usia remaja, anak tentunya telah mengetahui tentang konsekuensi apa yang akan ia hadapi sebagai akibat dari perbuatan nakalnya. Dalam rentang usia ini, cobalah menghukum anak dengan mencabut hak istimewa yang mereka miliki, serta memberikan aturan tertentu.
Anda bisa mendiskusikan beberapa aturan tertentu bersama anak. Misalnya jam tidur anak, jam main, pekerjaan rumah yang harus dilakukan, dan sebagainya. Kemudian buatlah negosiasi yang baik tentang pengaturan keseharian Anak. Jika anak melanggar, maka Anda bisa mencabut hak istimewa yang mereka miliki.
Misalnya dengan menyita gadget miliknya atau melarangnya bermain game untuk sementara waktu.
Baca Juga:
Pola Asuh yang Tepat untuk Anak
Tahukah Anda bahwa jika sikap nakal anak-anak juga bisa terwujud dari pola asuh yang kurang tepat? Nah, sebelum memberikan hukuman pada si kecil, ada baiknya Anda melakukan evaluasi dan introspeksi terlebih dahulu terkait pola asuh yang Anda terapkan.
Apakah pola asuh tersebut sudah tepat, atau justru malah membuat anak merasa tidak nyaman? Sebab, sejumlah pola asuh tertentu malah cenderung membentuk kepribadian anak menjadi pemberontak lantaran merasa kebebasannya terkekang. Contohnya adalah helicopter parenting dan pola asuh overprotektif.
Alih-alih menerapkan gaya parenting seperti itu, berikut ini adalah beberapa tipe pola asuh anak yang tepat dan perlu Anda terapkan:
1. Pola Asuh Authoritative
Merupakan pola asuh di mana Anda menentukan dan memberikan berbagai batasan yang jelas pada anak. Meskipun menentukan dan memberikan berbagai batasan pada anak, pola asuh ini tetap mendorong anak untuk dapat berdiskusi dengan Anda secara terbuka dan jujur.
Beberapa ahli mengatakan bahwa pola asuh authoritative merupakan bentuk pola asuh yang paling masuk akal dan efektif untuk diterapkan. Hal tersebut karena anak-anak dengan pola asuh authoritative akan cenderung disiplin dan dapat berpikir sendiri.
2. Pola Asuh Attachment
Merupakan bentuk pola asuh yang berpusat pada anak. Di mana Anda mampu menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman untuk mereka. Sehingga dari hal tersebut anak menjadi merasa aman dan dicintai. Dalam pola asuh ini, Anda juga memiliki banyak kontak fisik dengan anak seperti banyak waktu bersama, tidur bersama anak, membacakan dongeng sebelum tidur, dan menggendong.
Penelitian dari APA Psych NET mengungkapkan bawah anak dengan pola asuh attachment cenderung bersifat mandiri, mampu mengontrol emosi, dan memiliki empati yang tinggi.
3. Pola Asuh Free Range
Ini merupakan bentuk pola asuh yang memberikan kebebasan sepenuhnya pada anak sekaligus kebebasan untuk anak mengambil risiko. Meskipun memberikan kebebasan sepenuhnya, Anda tetap melakukan pengawasan dengan memberikan peraturan, konsekuensi, dan tanggung jawab.
4. Pola Asuh Demokratis
Sesuai namanya, ini adalah tipe pola asuh yang paling baik dan dapat diterapkan pada anak usia berapa saja. Baik masih balita sampai anak yang sudah dewasa . Pola asuh jenis demokratis memberikan kesempatan pada para orangtua terbiasa menempatkan dirinya pada anak bagaikan seorang teman. Sehingga, anak pun bebas mengungkapkan pendapatnya.
Dengan pola asuh ini, orangtua bisa mendengarkan keluhan anaknya dan memberikan masukan. Orangtua juga bersikap sangat ramah sehingga anak menjadi sangat terbuka. Anak pun tak membantah orang tuanya namun tetap menjaga sikap mereka dan menghargai.
Itulah ulasan tentang cara menghukum anak dengan benar sesuai usianya. Ingat, alih-alih melakukan kekerasan fisik pada anak, cobalah untuk mengevaluasi dan melakukan introspeksi terlebih dahulu bersama si kecil agar dapat menemukan jalan keluar yang ideal.
Baca Juga :
- Pola Asuh yang Tepat untuk Anak Introvert Agar Jadi Percaya Diri
- 6 Cara Meningkatkan Nafsu Makan Anak yang Ampuh dan Mudah

Sleep Buddy Merk Lokal, Kualitas Internasional sejak 2009, Rasakan pengalaman tidur yang berbeda dari sprei lembut dan tahan lama.








