Tidur Untuk Cegah Stunting Anak
Nov 01
0 Comments

Stunting merupakan salah satu kondisi yang cukup sering Anda temui pada anak di Indonesia. Kondisi ini merupakan fenomena di mana anak mengalami gagal tumbuh sehingga menyebabkan mereka tampak lebih kecil dan pendek dari anak seusianya.

Seorang anak bisa dikatakan terkena stunting, jika tinggi badannya berada di bawah standar pertumbuhan anak seusianya. Hal ini dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang anak dari segi fisik dan juga kognitif.

Dalam jangka pendek, stunting juga bisa meningkatkan angka kematian anak semakin tinggi. Sedangkan jangka panjangnya, akan menyebabkan turunnya kemampuan kognitif yang bisa menurunkan performa belajar. Sehingga kualitas SDM anak menjadi buruk.

Mencegah kondisi ini sebenarnya tidak sulit, namun dibutuhkan kedisiplinan orangtua dalam memantau tumbuh kembang anak. Salah satunya adalah dengan memperhatikan pola tidur si kecil.

Untuk itu, yuk ketahui cara mencegah stunting pada anak!

Apa itu stunting?

Stunting adalah kondisi di mana seorang anak memiliki tinggi di bawah standar pertumbuhan anak seusianya.

Seorang anak masuk ke dalam kategori stunting ketika tinggi badannya menunjukkan angka di bawah -2 standar deviasi (SD). Terlebih lagi, jika kondisi ini terjadi pada anak yang masih di bawah usia 2 tahun dan harus segera mendapatkan penanganan secepatnya.

Penilaian status gizi dengan standar deviasi tersebut biasanya menggunakan grafik pertumbuhan anak (GPA) dari WHO. Tubuh pendek pada anak yang berada di bawah standar normal merupakan akibat dari kondisi kurang gizi yang telah berlangsung dalam waktu lama. Hal tersebut yang kemudian membuat pertumbuhan tinggi badan anak terhambat.

Namun, perlu Anda ingat bahwa anak yang bertubuh pendek belum tentu stunting, sedangkan anak stunting pasti terlihat pendek.

Ciri-Ciri Stunting pada Anak

Seperti penjelasan sebelumnya, tidak semua anak balita yang berperawakan pendek mengalami stunting. Masalah kesehatan ini merupakan keadaan tubuh yang sangat pendek dilihat dari standar baku pengukuran tinggi badan menurut usia dari WHO.

Menurut Kemenkes RI, balita bisa diketahui stunting bila sudah diukur tinggi badannya, lalu dibandingkan dengan standar, dan hasil pengukurannya ini berada pada kisaran di bawah normal.

Selain tubuh yang berperawakan pendek dari anak seusianya, ada juga ciri-ciri lainnya yakni:

    • Pertumbuhan melambat
    • Wajah tampak lebih muda dari anak seusianya
    • Pertumbuhan gigi terlambat
    • Performa buruk pada kemampuan fokus dan memori belajarnya
    • Usia 8 – 10 tahun anak menjadi lebih pendiam, tidak banyak melakukan kontak mata terhadap orang di sekitarnya
    • Berat badan balita tidak naik bahkan cenderung menurun.
    • Perkembangan tubuh anak terhambat, seperti telat menarche (menstruasi pertama anak perempuan).
    • Anak mudah terserang berbagai penyakit infeksi.

    Sementara untuk tahu apakah tinggi anak normal atau tidak, Anda harus secara rutin memeriksakannya ke pelayanan kesehatan terdekat. Anda bisa membawa si kecil ke dokter, bidan, posyandu, atau puskesmas setiap bulannya.

    Baca Juga :

     

    Apa Penyebab Stunting pada Anak?

    penyebab stunting anak

    Penyebab utama stunting adalah kurangnya asupan gizi pada anak. Namun, kondisi tidak tercukupinya asupan gizi anak ini biasanya tidak hanya terjadi setelah ia lahir saja, melainkan bisa dimulai sejak ia masih di dalam kandungan.

    Di bawah ini adalah faktor penyebab stunting pada anak :

    1. Kurang asupan gizi selama kehamilan

    WHO atau badan kesehatan dunia menyatakan bahwa sekitar 20% kejadian stunting sudah terjadi saat bayi masih berada di dalam kandungan. Hal ini karena asupan ibu selama hamil yang kurang bergizi dan berkualitas sehingga nutrisi yang diterima janin cenderung sedikit.

    Akhirnya, pertumbuhan di dalam kandungan mulai terhambat dan terus berlanjut setelah kelahiran.

    2. Kebutuhan gizi anak tidak tercukupi

    Selain itu, kondisi ini juga bisa terjadi akibat makanan balita saat masih di bawah usia 2 tahun yang tidak tercukupi, seperti posisi menyusui yang kurang tepat, tidak diberikan ASI eksklusif, hingga MPASI (makanan pendamping ASI) yang kurang berkualitas.

    Banyak teori yang menyatakan bahwa kurangnya asupan makanan juga bisa menjadi salah satu faktor utama penyebab stunting. Khususnya asupan makanan yang mengandung protein serta mineral zinc (seng) dan zat besi ketika anak masih berusia balita.

    3. Faktor penyebab lainnya

    Selain itu, ada beberapa faktor lain yang menyebabkan stunting pada anak, yaitu:

    • Kurangnya pengetahuan ibu mengenai gizi sebelum hamil, saat hamil, dan setelah melahirkan.
    • Terbatasnya akses pelayanan kesehatan, termasuk layanan kehamilan dan postnatal (setelah melahirkan).
    • Kurangnya akses air bersih dan sanitasi.
    • Masih kurangnya akses makanan bergizi karena tergolong mahal.

     

    Cara Mencegah Stunting pada Anak

    mencegah stunting anak

    Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko anak mengalami stunting, baik saat masih dalam kandungan atau pun dalam masa tumbuh kembangnya :

    1. Lakukan pemeriksaan kandungan secara rutin

    Rutin melakukan pemeriksaan kandungan adalah hal yang tidak kalah penting dalam mencegah stunting pada anak. Pemeriksaan rutin selama kehamilan diperlukan untuk memantau tumbuh kembang janin, dan mendeteksi apabila terdapat masalah pada janin atau kesehatan ibu hamil.

    Dengan demikian, dokter bisa melakukan penanganan lebih awal, agar anak tidak mengalami stunting dan menjaga kondisi kesehatan ibu hamil tetap baik.

    Baca Juga :

     

    2. Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat

    Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga penting guna mencegah terjadinya infeksi selama kehamilan.

    Penting untuk diingat bahwa infeksi bakteri, virus, atau parasit tertentu yang ibu hamil alami bisa meningkatkan risiko janin mengalami stunting atau bahkan masalah kesehatan lain yang lebih serius, seperti cacat bawaan lahir.

    Oleh karena itu, ingatlah untuk mencuci tangan dengan air dan sabun secara teratur, terutama saat sebelum makan, sebelum menyiapkan makanan, setelah bepergian, dan setelah dari kamar mandi.

    3. Hindari paparan asap rokok

    Untuk mendukung pertumbuhan janin yang sehat, Anda juga harus berhenti merokok dan menghindari paparan asap rokok. Pasalnya, paparan asap rokok dapat meningkatkan risiko anak terlahir prematur, memiliki berat badan lahir rendah, hingga mengalami stunting.

    4. Pantau tumbuh kembang anak secara berkala dengan imunisasi

    Jangan menyepelekan kunjungan rutin si kecil ke pusat kesehatan. Saat kunjungan, dokter gizi akan membantu Anda melakukan pemeriksaan tumbuh kembang mulai dari pengukuran berat badan hingga lingkar kepala.

    5. Penuhi asupan nutrisi

    Ini merupakan salah satu hal yang penting dilakukan guna mencegah stunting pada anak. Agar proses tumbuh kembang anak bisa berjalan dengan optimal, ia perlu mendapatkan asupan nutrisi yang cukup di 1000 hari pertama kehidupannya, yakni sejak masih menjadi janin hingga usia sekitar 2 tahunan.

    Selain ASI, salah satu nutrisi yang berperan penting untuk tumbuh kembang anak adalah protein hewani seperti ikan, ayam, atau daging merah. Serta makanan sehat bergizi seimbang.

    6. Menjaga pola Tidur si kecil

    Hormon pertumbuhan baru akan terbentuk pada pukul 11 malam hingga 2 pagi. Sekresi hormon pertumbuhan ini harus dirangsang dengan cara tidur terlebih dahulu.

    Maka, anak seharusnya sudah tidur pada sekitar pukul 9-10 malam dan pastikan mereka mendapatkan tidur yang berkualitas.

    Apabila si kecil kesulitan tidur, Anda dapat membantunya dengan menemaninya hingga terlelap. Misalnya membacakan dongeng, menciptakan ruang tidur yang nyaman, serta hindarkan anak dari gadget.

    Anda bisa mencoba untuk mendekorasi ulang kamar anak. Cobalah ide desain kamar sesuai kepribadian agar kamar terasa makin nyaman. Anda juga bisa menambahkan hiasan dindingtanaman hias yang membantu untuk menyaring udara, atau mencoba dekorasi ala Korean Style yang kini sedang populer.

    Selain dekorasi, Anda juga bisa mencoba memilih warna sprei yang bagus untuk dekorasi kamar anak, karena sprei yang cantik memiliki banyak manfaat untuk psikologis.

    Pastikan juga memilih bahan sprei yang bagus untuk anak, berkualitas, dan tentunya aman bagi anak yang memiliki kulit sensitif. Maka dari itu, pilihlah sprei atau bedcover dengan bahan terbaik yang nyaman, lembut dan aman gunakan

    Sleep Buddy menjadi pilihan tepat bagi Anda yang menginginkan sprei dan bedcover berkualitas. Kami memberikan bahan-bahan terbaik yang terbuat dari 100% organic cotton untuk menunjang kualitas tidur si kecil agar semakin nyaman dan nyenyak.

    Ada banyak pilihan sprei dengan berbagai motif dan ukuran yang bisa Anda sesuaikan dengan selera di Sleep Buddy store, atau marketplace seperti Tokopedia, Shopee, Lazada, atau Blibli. Kunjungi juga akun Instagram kami untuk mendapatkan info terbaru seputar Sleep Buddy.

    Baca Juga :

Nissa Sleepbuddy

Sleep Buddy Merk Lokal, Kualitas Internasional sejak 2009, Rasakan pengalaman tidur yang berbeda dari sprei lembut dan tahan lama.